BUKIT TIUNG DALAM LANSKAP RINDU

Mengitari Bukit Tiung
kugantungkan cinta purba di atasnya
pada kicau burung-burung di rindang cahaya
menyenandungkan liris Batang Mesumai
rumah-rumah petak gigil dalam dekap kaki lima
sibuk menawari gemulai siang

melingkari Bukit Tiung
kusimak pohon-pohon lari berkejaran
pada dinding-dinding tebing di sisinya
mematri relief perjalanan para moyang
deru mesin-mesin buyar dalam sekap trotoar
latah menerjemahkan rindu kampung halaman

melayari Pasar Bawah titian lama
tak pula henti menyergap kenang
terminal menawarkan persinggahan
datang dan kelak kembali pulang

ah, rindu tak pernah juga terhapus
mengkristal pada geliat yang pekat
lalu menyublim darah njelma gairah
tersebab kota menyatu karat kata-kata.

Imaji, 2016.

FacebookTwitterGoogle+TumblrPinterestShare

DI PENGHUJUNG SENJA

: @DNvt

Kelopak waktu tergesa memuai
garis-garis geometri mencerai cahaya
sementara teja lekat memahat wajahmu
mengurai dilatasi rindu

pada rindang ruang lengang
wangi parfum menelisik angin
gelisah mengembara serpihan aorta
hingga irama tuts-tuts itu menyaru canda
kau mengerling memunguti segumpal cerita
dan memaksanya menjadi gairah

interval jarak yang tercipta
memantik kisi-kisi gersang maya
kita memperdaya aksioma yang tersisa
seumpama Euclid meniti asa njelma teorema
hingga sebenar-benar nyata
menjadi kisah

setelah penat melukis senja
kita melenggang pulang

Imaji, 5 Oktober 2017. 17:33