Puisi 2015

Merindukan Perempuanku

Aku merindukan perempuanku
pada reranting bunga sepatu yang hampir layu
tersangkut sisa debu kemarau
yang karib menyelimuti hari-hari
sepanjang kering lenting rerumputan
menyiratkan rindu sepucuk kisah
melambai pada gersang dan membumbunnya
menjadi rajutan senggama malam

Aku merindukan perempuanku
pada gemulai rupiah yang kian patah
tergelincir pekat asap
syahdu mengusik paru-paru
hingga merah menyelubungi rimbun wajah
meriwayatkan kerut berlipat-lipat
memamah waktu

Ah, perempuanku
selalu saja kita menganyam duka
setia mengumpulkan puing-puing lara
dan tak sempat merajutnya menjadi surga

2015

FacebookTwitterGoogle+TumblrPinterestShare

Sajak Tentang Hujan

Irama itu selalu saja kurindukan
menyapa daun-daun luruh menguning
berselimut pekat asap
dan menyusup batu-batu jejalan penuh debu
lalu menyirami setiap hati yang tabah
seakan menjawab harap
wajah-wajah tengadah pasrah

Suara itu senantiasa kurindukan
seiring mengalir lamat azan subuh berkabut
lantas jatuhlah titik-gemeritik itu
membasahi tanah-tanah rengkah
menyenandungkan kembali kicau
burung-burung yang lama menyepi
pada setiap tetes menghamilkan asa
dan selalu saja melahirkan surga
bagi jiwa-jiwa nestapa  

2015