Puisi 2016

BUKIT TIUNG DALAM LANSKAP RINDU

Mengitari Bukit Tiung
kugantungkan cinta purba di atasnya
pada kicau burung-burung di rindang cahaya
menyenandungkan liris Batang Mesumai
rumah-rumah petak gigil dalam dekap kaki lima
sibuk menawari gemulai siang

melingkari Bukit Tiung
kusimak pohon-pohon lari berkejaran
pada dinding-dinding tebing di sisinya
mematri relief perjalanan para moyang
deru mesin-mesin buyar dalam sekap trotoar
latah menerjemahkan rindu kampung halaman

melayari Pasar Bawah titian lama
tak pula henti menyergap kenang
terminal menawarkan persinggahan
datang dan kelak kembali pulang

ah, rindu tak pernah juga terhapus
mengkristal pada geliat yang pekat
lalu menyublim darah njelma gairah
tersebab kota menyatu karat kata-kata.

Imaji, 2016.

FacebookTwitterGoogle+TumblrPinterestShare

RINEXIT: MALAM PUALAM

Kuhapus sisa-sisa hujan di wajahmu
yang tak pernah lagi basah setelah senja itu
sebab kemarau setia memainkan gairah
merapah palung diam yang paling kelam
lantas kau mengabarkan sunyi
hening menghunjam dingin
aku terbata dalam tafsir sepi
sebenar-benar luka

Kauhapus remah-remah hibat di kalbuku
yang kusemai hingga malam mengabut
lantaran riwayat yang sempat jadi harap
mengusik relung pengembaraan
kemudian kau peluk langit
hangat di ujung lain
kau renda suka dalam tafsir gempita
sebenar-benar gelora

Malam-malam mempualam
menggulung rindu yang paling kuyu
aku kau memadu bisu

Imaji, 14 Juli 2016. 07:31